Skip to content

Alfiananda's Blog

Just another WordPress.com weblog

Pekalongan, NU Online
Jika di andaikan sebuah rumah, maka Thariqat adalah pondasi paling bawah yang menjadi dasar bangunan besar Nahdlatul ulama. Kemudian pesantren, di lapis kedua, Nahdlatul ulama di lapis ketiga dan PKB mungkin di lapis paling atas dari struktur bangunan organisasi kemasyarakatan NU. “Karena masuknya Islam ke bumi Nusantara, diawali dengan masuknya thariqat, jadi thariqat adalah peletak dasar bangunan NU. Kekuatan inilah yang menjadikan NU mengakar di tengah-tengah jama’ah dan jamiyyahnya,” demikian diungkapkan Ro’is A’am Jam’iyyah Ahli Thariqah Al-Mu’Tabarah An Nahdliyah, KH. Habib Luthfiy Ali bin Yahya kepada NU Online di sela-sela Muktamar X badan otonom NU ini di Pekalongan, Selasa, (29/3) lalu.

Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa agama Islam di berbagai belahan dunia berkembang berkat jasa para ulama yang kemudian dikenal sebagai Wali Allah, seperti di India, Afrika Utara dan Afrika Selatan bahkan di Indonesia. Di Aceh terkenal dengan serambi Mekkah, suatu gelar yang diberikan untuk menggambarkan betapa pesatnya kemajuan Ilmu-ilmu Islam di daerah itu, seperti Syekh Nuruddin Ar Raniri, Syekh Abdurrauf Singkly, Syekh Syamsuddin Sumatrani, dan masih banyak lagi; sebagai orang-orang yang sangat berjasa dalam pengembangan Islam di sana. Demikian pula di Jawa, terkenal dengan Walisongonya sebagai ulama yang berjasa dalam pengembangan Islam. Dan masih banyak lagi yang dapat disebutkan hanya untuk menjelaskan bahwa ulama-ulama tasawuflah yang banyak jasa dan pengorbanannya dalam pengembangan Islam di dunia. Karena dimanapun tempat mereka berada, walaupun berbeda adat dan budaya maupun bahasa mereka berbaur dengan masyarakat dengan hati dan jiwa suci sehingga dengan mudahlah ajaran Allah dan RasulNya difahami.

“Jadi sufisme atau dalam Islam diberi nama tasawuf , bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan. Intisari sufisme, adalah kesadaran akan adanya komunikasi rohaniah antara manusia dengan Tuhan lewat jalan kontemplasi. Jalan kontemplasi tersebut, dalam dunia tasawuf dikenal dengan istilah tarekat,” urai habib yang memiliki puluhan ribu jama’aah ini.

Tarekat, lanjutnya secara harfiah berarti jalan atau cara untuk mencapai tingkatan-tingkatan (maqamat) untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tarekat sebagai sebuah jalan, dalam dunia tasawuf, banyak muncul pada abad ke-6 dan ke-7 Hijriyah, yaitu ketika tasawuf menempati posisi penting dalam kehidupan umat Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, tarekat menjadi semacam organisasi yang kegiatannya tidak hanya terbatas pada wirid, zikir, tetapi pada masalah-masalah yang bersifat duniawi.

Dalam tasawuf, jumlah tarekat sangat banyak, tetapi kaum sufi mengelompokkan tarekat menjadi dua jenis, yaitu tarekat mu’tabar (thariqah yang mutashil (tersambung) sanadnya kepada Nabi Muhammad SAW), dan tarekat ghairu mu’tabar (thoriqoh yang munfashil (tidak tersambung) sanadnya kepada Nabi Muhammad. Untuk menghindari penyimpangan sufisme dari garis lurus yang diletakkan para sufi terdahulu, maka NU meletakkan dasar-dasar tasawuf sesuai dengan khittah ahlissunnah waljamaah. Dalam hal ini, NU membina keselarasan tasawuf Al-Ghazali dengan tauhid Asy’ariyyah dan Maturidiyyah, serta hukum fikih sesuai dengan salah satu dari empat mazhab sunniDalam kerangka inilah, Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) dibentuk, yaitu untuk memberikan sebuah rambu-rambu kepada masyarakat tentang tarekat yang mu’tabar dan ghairu mu’tabar. Dari segi organisasi, Jatman secara de facto berdiri pada bulan Rajab 1399 H, bertepatan dengan Juni 1979 M. Tetapi, sebelum terbentuk Jatman, bibit organisasi tersebut telah lahir, yaitu Jam’iyyah Thariqah Al-Mu’tabarah. Kelahiran Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah tidak dapat dilepaskan dari Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-26 di Semarang. Tetapi, apabila dilihat dari segi ilmu dan amaliahnya, maka tarekat sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW diutus untuk membawa agama Islam ke muka bumi. Nabi Muhammad menerima baiat dari malaikat Jibril, dan Jibril menerima dari Allah SWT.

Lebih jauh di jelaskan Habib Luthfi, sebelum terbentuk Jatman, ulama-ulama Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan aktif di dunia tarekat telah membentuk organisasi tarekat, dengan nama Jam’iyyah Thariqah Al Mutabarah. Pembentukan organisasi ini sebagai wadah untuk menetapkan tarekat-tarekat yang mu’tabar dan ghairu mu’tabar, sehingga umat Islam tidak terjebak dan salah dalam mengamalkan tarekat. Pembentukan organisasi ini sebagai langkah untuk menghindari gesekan atau perpecahan di tingkat grass root, akibat sikap fanatik yang berlebih-lebihan terhadap tarekat yang dianutnya. Hal ini dikarenakan kecenderungan pengikut suatu ajaran tarekat, dalam melakukan klaim kebenaran ajaran tarekat yang diikutinya.

Jam’iyyah Thariqah AI Mu’tabarah didirikan oleh beberapa tokoh NU, antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri, Dr KH ldham Chalid, KH Masykur serta KH Muslih. Dengan tujuan awal untuk mengusahakan berlakunya syar’iat Islam dhahir-batin dengan berhaluan ahlussunnah wal jamaah yang berpegang salah satu dari mazhab empat, mempergiat dan meningkatkan amal saleh dhahir-batin menurut ajaran ulama saleh dengan baiah shohihah; serta mengadakan dan menyelenggarakan pengajian khususi/ tawajujuhan (majalasatudzzikri dan nasril ulumunafi’ah).

Jam’iyyah Thariqah Al Mu’tabarah pertama kali melakukan muktamar pada tanggal 20 Rajab 1377 atau bertepatan dengan 10 Oktober 1957 di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang. Muktamar pertama diprakarsai oleh beberapa ulama dari Magelang dan sekitarnya, seperti KH Chudlori, KH Dalhar, KH Siradj, serta KH Hamid Kajoran. Pada muktamar pertama mengamanatkan kepada KH Muslih Abdurrahman dari Mranggen, Demak, sebagai rais aam. Pada muktamar pertama

Dalam muktamar ini belum diputuskan tentang anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART), karena organisasi ini masih bersifat sebagai halaqah antara kiai-kiai yang mengamalkan tarekat. Sifat Jamiyyah Thariqah AI Mu’tabarah, sebagai sebuah halaqah masih tetap dipertahankan sampai Muktamar ke-5 yang berlangsung di Madiun, Jawa Timur, pada tanggal 24-27 Rajab 1395 atau bertepatan dengan 2-5 Agustus 1975.

Gesekan Politik
Dari muktamar ke muktamar, KH Muslih Abdurrahman mendapat kepercayaan untuk memimpin Jam’iyyah Thariqat Al Mu’tabarah selama empat periode. Setelah itu, pada muktamar kelima yang diselenggarakan di Madiun, mengamanatkan kepada KH Musta’in Romly sebagai rais aam dan KH Anwar sebagai sekretaris aam. Di dalam periode ini, mulai muncul gesekan-gesekan dalam organisasi ini. Gesekan ini diakibatkan oleh adanya upaya depolitisasi yang dilakukan oleh Orde Baru, yaitu untuk menjinakkan organisasi massa. Orde Baru dengan mesin politiknya -Golkar- berusaha dengan sekuat tenaga agar jam’iyyah NU beserta neven-neven-nya dapat masuk ke sistem Orde Baru, sehingga NU yang pada waktu itu sebagai partai politik di paksa fusi ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Dari persoalan itulah, maka sesepuh tarekat yang diprakarsai oleh KH Muslih Abdul Rahman, KH Turaichan Adjhuri serta KH Adan Ali mengajukan usul kepada sidang pleno syuriyah PBNU pada waktu Muktamar NU ke-26 di Semarang tahun 1979, agar Jam’iyyah Thariqah tetap satu langkah, satu ittihad, dan tetap satu posisi dengan ahlus sunnah wal jamaah.

Seiring bergulirnya waktu dan dinamika organisasi, pada Muktamar NU ke-26 di Semarang tahun 1979, secara tegas label “An-Nahdliyyah” dimasukkan ke dalam nama organisasi Jam’iyyah Thariqat AI-Mu’tabarah, hingga nama organisasi tarekat berdasarkan salah satu keputusan Muktamar NU ke-26 adalah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An- Nahdliyyah atau biasa disingkat dengan Jatman.

Berdasarkan salah satu hasil keputusan Muktamar NU ke-26 tersebut, maka penambahan “An-Nahdliyyah” pada Jam’iyyah Thariqah Al-Mu’tabarah secara resmi dilakukan. Hal ini sebagimana tertuang dalarn Surat Keputusan Pengurus Besar Syuriyah NU Nomor 137/ Syur.PB/V/ 1980.
Dalam kondisi masyarakat yang majemuk (plural), di mana sebuah ideologi terkadang menjadi momok di dalam menjalin hubungan antar sesama, terlebih bagi mereka yang berseberangan ideologi, maka sikap sektarian akan merugikan kelompok itu sendiri.

Demikian juga, untuk organisasi tarekat, apabila diperhatikan, organisasi tarekat yang berpaham ahlus sunnah waljamaah (aswaja) antara tahun 1957 – 1975 M, adalah organisasi yang merdeka, dalam arti tidak terkotak dalam sebuah frame organisasi.

Tetapi setelah tahun 1979, ketika organisasi tarekat berpaham ahlussunnah wal jamaah tersebut mencantumkan label “An Nahdiyyah”, maka secara tidak sengaja telah membatasi diri pada sebuah ikatan ideologi organisasi, yaitu ideologi organisasi Nahdlatul Ulama (NU). (29)

nu.or.id

indosufinews.blogspot.com

Tags:

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: