Skip to content

Alfiananda's Blog

Just another WordPress.com weblog

Dalam sebuah berita yang kala itu menggemparkan wilayah nusantara dan bahkan sampai ke Luar Negeri. untuk akhir dari sebuah perjuangan panjang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).Dunia tak sempat membanyangkan bahwa Tokoh Idola kalangan NU telah berpulang lebih cepat ya mungkin cukup lama terdengar bahwa Beliau telah lama mengidap penyakit yang terus menggerogoti kesehatan Beliau. Lebih tepatnya juga saat beliau dilengserkan oleh DPR dan MPR pada masa pemerintahannya. Namun itu semua tak sama sekali dapat menyurutkan semangat Beliau dalam Berdakwah, Membela kaum minoritas, Politikus dan Budayawan.

Dalam awal pendidikan Beliau Dalam lingkup Pesantren yang kala itu Berkumpul juga para GUS lainnya yang juga ikut mondok bersama Beliau, banyak yang telah menampakkan suatu yang berbeda diantara Santri lainnya.Pada umumnya Kebiasaan Santri yang mengaji Kitab Kuning adalah hal paling pokok.Namun Gus Dur juga menambah kebiasaan membaca koran pagi yang kala itu dianggap kebiasaan yang menyimpang namun itu tak menyurutkan minat baca Beliau untuk terus membaca.

Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Selain itu beliau juga aktif berkunjung keperpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop. Kegemarannya ini menimbulkan apresiasi yang mendalam dalam dunia film. Inilah sebabnya mengapa Gu Dur pada tahun 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.

Membaca peradaban Dunia Luar yang kala itu tak dimiliki Para Santri lain sejaman dengan beliau dan terbukti hingga saat Ini mungkin Beliaulah Santri NU paling  modern dalam faham INTERNASIONAL.Semakin matang ke Intelektualan Beliau juga yang  ditunjang minat baca yang sangat luar biasa membuat Beliau diakui bahkan dikagumi Warga Dunia, dengan disertai penghargaan dan gelar tingkat Internasional

Gus Dur memperoleh banyak gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dari berbagai lebaga pendidikan, yaitu:

– Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Netanya University, Israel (2003)

– Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Konkuk University, Seoul, Korea Selatan (2003)

– Doktor Kehormatan dari Sun Moon University, Seoul, Korea Selatan (2003)

– Doktor Kehormatan dari Soka Gakkai University, Tokyo, Jepang (2002)

– Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Thammasat University, Bangkok, Thailand (2000)

– Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)

– Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Sorborne University, Paris, Perancis (2000)

– Doktor Kehormatan dari Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand (2000)

– Doktor Kehormatan dari Twente University, Belanda (2000)

– Doktor Kehormatan dari Jawaharlal Nehru University, India (2000)

Seluruhnya adalah bukti kePintaran dan Kejeniusan seorang Kiai NU yang dihargai oleh Dunia.Bahakan santer terdengar Bahwa Beliau mampu membuat keputusan yang tak wajar yang oleh orang yang tak faham akan dinilai ngelantur atau salah kaprah. Namun dengan dengan seiring berjalannya waktu keputusan itu terbukti brillian bahkan jenius oleh kalangan Intelektual Dan dengan itu juga oleh warga NU tradisional  yang patuh, Beliau dianggap seorang WALIYULLAH besar dengan keputusan yang diluar Nalar manusia biasa.

Pendapat Warga yang telah lama berkembang dan mengakar kuat disertai Doktrin khas Pesantren  semakin menguatkan Citra beliau dikalangan NU. Sosok Kewalian yang telah terlanjur melekat kuat semakin juga menambah kecintaan warga NU pada beliau dan juga cerita cerita mistis dan keramat pada Beliau.

Dalam ornament cermin itu tertulis sebuah kisah yang melingkar. Bahwa Allah Ta’ala memberi wahyu kepada Nabi Dawud as: “Wahai Dawud, Wali-wali-Ku berada dalam kubah-kubah dan tidak ada yang tahu kecuali wali-waliKu. Betapa beruntung bagi para wali-Ku dan betapa eloknya bagi para kekasih-Ku.”
Dikatakan, “Bila ditampakan sepercik cahaya Nabi as, maka antara Arasy dan bintang Tata surya akan terbakar hangus.”

Untuk sekian kali kita yang warga awam memanglah wajib mengakui bahwa Kewalian itu memang benar adanya.Namun apakah beliau itu seorang Waliyullah atau bukan kita tak diwajibkan mencaritahu Karena juga dalam Doktrin NU Wali itu yang tahu dan yang mengkader adalah Allah SWT sendiri. lebih baik mencari kekurangan diri daripada sibuk mencari kegaiban. Toh juga bila kita diberi NUR keyakinan Bahwa beliau Wali kita juga wajib mempercayainya.

Entah oleh kalangan Intelektual yang menyebut Beliau seorang Kiai “JENIUS” atau seorang Kiai “WALI” oleh kalangan NU.Kita yang awam wajib menghormati keputusan itu.Keputusan yang berdasar atas Bukti dan Nur keyakinan.

Setidaknya Beliau dicintai oleh Muslim dan NON Muslim atas Jasa dan Usaha semasa hidup Beliau. Dan telah membuktikan Firman sebaik baik Muslim adalah yang membawa manfaat bagi lainnya dan Islam Rahmatan LIL Alamin

(dari berbagai sumber)

Tags:

%d bloggers like this: