Skip to content

Alfiananda's Blog

Just another WordPress.com weblog

Sebuah tradisi kalangan yang berinisiatif untuk maju dalam berbagai hal slah satu kuncinya dengan membaca.Membaca dalam hal yang kadang sulit untuk menjadi sebuah hobi,lebih biasa yang menjadi sebuah tuntutan pelajar untuk mau tidak mau haruslah membaca untuk sekadar merampungkan tugas, nilai dan hal-hal lainnya.Lain halnya bila kesemua itu akan kita mulai dari niatan yang baik dari hati yang berlandaskan hobi.Dalam banyak hal membaca membawa manfaat tanpa kita sadari.

Membaca teks-teks yang ada di buku melatih kita untuk memusatkan pikiran. Kita diajak untuk memperhatikan kata demi kata yang ada pada teks tersebut. Karena kalau kita kehilangan beberapa kata saja, bisa jadi kita tidak akan bisa menangkap keseluruhan maksud dari kalimat yang ada.

Kalimat-kalimat yang menarik dalam buku bisa merangsang saraf otak kita untuk bekerja dan mengamati hal menarik tersebut.

Ada penelitian yang membuktikan bahwa membaca buku bisa mencegah kita dari penyakit pikun. Mungkin karena kita selalu diajak berpikir ketika kita membaca, sehingga otak kita bisa tetap aktif.

Membaca buku bisa membantu mengalihkan perhatian kita dari hal-hal lain yang ingin kita lupakan.

Mohammad Nuh mengatakan, kegairahan membaca harus terus digelorakan di tengah masyarakat pada semua kalangan. ”Buku dan orang bijak adalah guru dalam kehidupan,” kata Nuh.

Terlepas dari manfaat dari kesemua manfaat yang telah dipaparkan ada baiknya juga kita menelisik. Beberapa atau bahkan kesemua Tokoh berpengaruh dunia memiliki hobi dan menjalankan ritual membaca atas dasar rasa butuh akan suatu pengetahuan.

Berdasarkan hasil survei lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education Society and Cultural Organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia. Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari negara-negara maju yang memiliki tradisi membaca cukup tinggi.

Jepang, Amerika, Jerman, dan negara maju lainnya yang masyarakatnya punya tradisi membaca buku, begitu pesat peradabannya. Masyarakat negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka kemana pun mereka pergi, ketika antre membeli karcis, menunggu kereta, di dalam bus, mereka manfaatkan waktu dengan kegiatan produktif yakni membaca buku. Di Indonesia kebiasaan ini belum tampak.

Banyak orang besar rata-rata hobi membaca dan mengakui manfaat membaca bagi kemajuan karirnya. Sebut saja Theodore Roosevelt, ia bahkan sanggup membaca tiga buku dalam sehari selama di Gedung Putih. John F. Kennedy juga sama, bahkan ia disebutkan sanggup membaca 1000 kpm (kata per menit). Bisa dibayangkan, berarti dalam satu jam bisa membaca 60 ribu kata.

Jika menengok para tokoh pemimpin bangsa ini, akan terlihat bahwa dalam perjalanan hidup mereka, buku tak lepas dari keseharian mereka, salah satunya adalah Gus Dur. Mantan presiden RI pascareformasi ini waktu kecil pernah ditegur ibunya soal hobi membaca, seperti terungkap dalam buku Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur. “Jangan terlalu banyak membaca, nanti matamu rusak,” begitu kata sang bunda seraya membolak-balik halaman novel sastra putranya yang baru berumur 10 tahun.

Pada usia itu Gus Dur memang sudah akrab dengan buku-buku yang agak serius. Dari filsafat, cerita silat, sejarah, hingga sastra. “Saya ini enggak punya pacar. Teman main saya cuma buku dan bola,” celoteh Gus Dur mengingat masa itu.

Bila dirunut ke belakang, enigma Gus Dur bermuara pada keluasan pengetahuan dan wawasan keilmuan dari hasil pergulatan dengan buku. Gus Dur dan buku bertumpu menjadi satu, ibarat dua gambar dalam sekeping mata uang logam yang nyaris tak bisa dipisahkan. Saat ditegur ibunya agar sering-sering bermain bersama teman dan tidak melulu berkarib dengan buku, sontak Gus Dur berseloroh, “Dengan membaca buku, kelak temanku seantero dunia.” Maka, tepatlah Gola Gong (2006) menilai, hanya dengan bukulah dunia bisa ditaklukkan dengan mudah

Koleksi buku pribadi SBY saat ini jumlahnya memang sudah ribuan. Bahkan banyak buku langka yang sudah dikoleksinya. Hobi membaca memang selalu membawa SBY melangkah ke toko buku. Sebelum mengunjungi Perpustakaan dan Museum JFK misalkan, SBY menyempatkan berbelanja buku di Toko buku The Coop Harvard-MIT.

Dan juga Tan Malaka yang mengoleksi buku dalam jumlah yang banyak dalam seorang pelarian, yang produktif dalam artikel dan bukunya MADILOG

Kesemua itu bukanlah suatu kebetulan semata yang berujung pada karier yang cemerlang.Namun patutlah kita sadari bahwa bilamana kita berkeinginan mencapai prestasi dan kepahaman seperti tokoh diatas utamanya kita harus akrab dengan buku bacaan,setidaknya para pembaca yang budiman sudah akrab dengan buku.

Kita warga Indonesia ditunggu sumbangsihnya oleh ibu Pertiwi.Mungkin lain waktu atau entah kapan lagi akan muncul sosok yang dari ritual dan hobi membaca tersebut  dapat sekali lagi memngguncang dunia, memperbaiki akhlak, suri tauladan pada tanah air tercinta.

Tak kurang-kurang bukti yang nyata akan faedah dan guna,apa salahnya kita HOBI membaca sedari sekarang selama hayat masih dikandung badan??

*ahperpus.multiply.com

*indonesiabuku.com

*gaulislam.com

*detiknews.com

*surabaya-ehealth.org

Tags:

%d bloggers like this: