Skip to content

Alfiananda's Blog

Just another WordPress.com weblog

Banyak definisi tentang Tarekat bahkan setiap tokoh memiliki Definisi yang berbeda dengan lainnya mungkin ini  saya kutipkan berbagai penjelasan akan makna dan arti Tarekat.

oleh Habib Muhammad Luthfiy bin Ali bin Hasyim bin Yahya

“Thoriqoh merupakan salah satu amaliyah keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan perilaku kehidupan Beliau sehari-hari adalah praktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal thoriqoh dari generasi ke generasi sampai sekarang ini.

Thoriqoh adalah suatu praktek perbuatan untuk membersihkan hati dan membersihkan relung-relung hati dari karatnya kelalaian dan salah pahamnya kebutuhan. Relung-relung hati itu tidak bisa suci (bersih) kecuali dengan dzikir kepada Allah SWT. dengan cara tertentu. Oleh karena itu wajib bagi setiap mu’min (muslim) setelah mengetahui ‘aqidatul ‘awam (50 sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah SWT. dan para Rasul-Nya) dan pekerjaan-pekerjaan harian yang disyariatkan Allah SWT, berupa sholat (yang meliputi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang membatalkannya), zakat, puasa, dan haji untuk meningkatkan diri dan memasuki thoriqoh dzikir dengan cara khusus/tertentu.”

Dr Asep Usman Ismail,  Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah – Jakarta

“Tarekat  itu, secara harfiah berarti cara, jalan dan metoda atau metodologi yang harus bekerja satu sama lain saling terkait menjadi satu sistemik. Tasawuf adalah ilmu yang mempelajari metode itu, berikut landasannya. Unsur riwayah dalam tasawuf antara lain ada pada Al Quran Surat Al-Ahzab ayat 41 yang menyatakan : “Hai  orang-orang yang beriman berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” Kemudian dilanjutkan ayat 42 : “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” Kedua ayat ini menyebutkan perintah berdzikir dan waktunya —  disebutkan pagi dan petang. Tetapi (kemudian dalam praktiknya) dilakukan setiap selesai shalat.

Kemudian ada riwayah lain tentang perlunya dzikir dalam hati, pada Al Quran Surat Al-A’raf ayat 205 :  “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” Jadi ada dzikir dalam qalbu, kerendahan hati, dan tanpa kata-kata. Karena juga ada ayat yang mengatakan:  ”Kamu jangan menjadi bagian dari umat yang kosong,” (without conection with Allah). Ini aspek riwayah yang menjadi landasan adanya dzikir lisan dan dzikir qalbu.

Tetapi dalam perkembangan tarekat, sebagaimana juga terjadi  pada bidang ilmu yang lain,  ada unsur diroyah. Diroyah itu intervensi akal atau pikiran. Dalam fikih terjadi, misalnya  dalam hal berwudu’, dalam Al Quran Surat Al-Ma’idah ayat 6 : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” Itu riwayah, tetapi para ulama menyusun rukun itu ada 6 (enam). Ini ada intervensi ilmu dan pemikiran, sumbernya menyebutkan empat, akhirnya menjadi enam. Tambahannya ada ‘niat’, kemudian untuk menjaga urutan dari rukun yang 4 (empat) tadi, perlu satu rukun lagi, maka muncullah ‘tartib’ untuk menjaga keotentikan sesuai dengan Al Quran. Allah menyebutnya  kepala, tangan, kaki, dan seterusnya tidak berubah. Inilah korelasi antara riwayah dengan diroyah.

Demikan juga dalam tarekat, sepanjang tetap menjaga keotentikan riwayah perihal dzikir (lisan maupun qalbu), kalaupun terlihat terjadi perubahan,  itu hal yang lumrah. Perubahan tersebut lebih menunjukkan adanya dinamika.

Misalnya tentang jumlah dzikir lisan,  Rasulullah berdzikir Subhanallah, Allahu Akbar, dan lain-lain sebanyak 33 kali.  Begitu sampai ke tokoh tarekat tertentu, bilangannya bisa menjadi ratusan atau ribuan kali.  Bagi orang yang tidak memahami riwayah dan diroyah bisa saja dikatakan itu bid’ah. Ini karena tidak berfikir metodologis. Sepanjang itu masih ada payungnya, yaitu Al Quran yang menyebut secara kualitatif banyaknya dzikir, itu tidak masalah.  Keragaman sangat mungkin dalam menentukan jumlah bilangan wirid”

Para Sufi merujuk Hadis yang menyatakan, “Syariat ialah kata-kataku (aqwali), tarekat ialah perbuatanku (a`mali) dan hakekat (haqiqa) ialah keadaan batinku (ahwali), Ketiganya saling terkait dan tergantung. Kemunculan tarekat Sufi juga sering dirujuk pada Hadis yang menyatakan, “Setiap orang mukmin itu ialah cermin bagi mukmin yang lain” (al-mu`min mir`at al-mu`minin). Mereka, para Sufi, melihat dalam tingkat laku kerabat dan sahabat dekat mereka tercermin perasaan dan perbuatan mereka sendiri. Apabila mereka melihat kekeliruan dalam perbuatan tetangga mereka, maka mereka segera bercermin ke dalam perbuatan mereka sendiri. Dengan cara demikian ‘cermin kalbu mereka menjadi lebih jernih/terang’. Nampaklah bahwa introspeksi merupakan salah satu cermin paling penting dalam jalan kerohanian Sufi.

Menurut ‘Abdurrazzâq Al-Kâsyânî, tharîqah adalah jalan khusus yang ditempuh oleh para Sâlik dalam perjalanan mereka menuju Allâh, yaitu dengan melewati jenjang-jenjang tertentu dan meningkat dari satu maqâm ke maqâm yang lain

KH Mustofa Bisri

Thoriqah itu jalan atau metode. Jalan menuju keridhaan Allah. Metode untuk mensucikan hati.  Bid’ah, model-model yang tidak ada di zaman kanjeng Nabi. Ada yang terlalu ekstrem mengartikannya: pokoknya apa saja yang di zaman Nabi tidak dilakukan, dilarang dilakukan. Ini berakibat pengharaman terhadap banyak hal; termasuk misalnya: pendirian sekolah; taraweh berjamaah; hari raya berdasarkan hisab; dlsb.

Menurut al-Jurjani r.h dalam kitabnya al-Ta’rifaat: “Tarekat adalah jalan yang khusus bagi ahli salikin (orang yang berjalan) menuju kepada Allah dengan melalui pelbagai rintangan dan peningkatan pelbagai makam”. (Al-Jurjani, Ta’rifaat H: 94).

Ibnu ‘Abidin r.h di dalam kitabnya yang masyhur, Radd al-Mukhtar: “Tarekat adalah jalan yang khusus bagi Ahli Salikin dengan mengharungi pelbagai rintangan dan melalui peningkatan makam-makam…Hakikat adalah musyahadah (menyaksikan) akan Tuhan dengan mata hati. Dikatakan juga, bahawa ia adalah rahsia maknawi yang tidak terbatas dan bertempat.

semoga bermanfaat Amin

dari berbagai sumber


%d bloggers like this: