Skip to content

Alfiananda's Blog

Just another WordPress.com weblog

Tentunya tak asing ditelinga kita tentang cita-cita suatu harapan tentang kesuksesan ataupun keberhasilan, yang mulanya juga mungkin tak lebih dari suatu pandangan akan bayang bayang hidup yang serba nikmat ataupun penuh dengan suka cita. Tentulah itu hanya mula dari pandangan kala kita masih sering “dikudang” oleh nenek atau kakek kita masa lampau. Namun seiring proses pembelajaran dewasa yang kita alami dari tempat, komunitas dan waktu yang berbeda tentunya menempa kita agar berpikir ulang tentang Cita-cita yang telah kita rencanakan lampu. Mungkin akan berubah ataupun akan menjadi lebih kuat cita-cita tersebut tergantung kita bagaimana kita menyikapi proses tersebut. seperti suatu ungkapan “kejarlah cita-citamu setinggi mungkin” yang merupakan mantra kalangan umum untuk tak pernah menyerah dalam mengejarnya.

 

Entah dalam usaha maupun motivasi agar menjadi nyata.

Dalam berbagai hal yang telah kita ketahui dalam kenyataan tersebut haruslah dibarengi dengan rasa suyukur, mental dan pengetahuan tentang potensi diri. Agar dalam menyikapi berbagai kenyataan yang tak sesuai kita dapat berpikir ulang dan dapat menentukan arah yang mungkin lebih baik lagi kedepannya. Seperti rasa syukur dalam hidup yang tak pernah kita tengok dalam kenyataannya, bila kita harus membelanjakan uang tolak ukur kita adalah orang sekitar kita. Yang pasti banyak dalam keadaan di bawah garis mampu dalam ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anggap saja makan sehari dengan dua kali saja sudah lumayan. Atau contoh nyata ya adalah para DPR yang secara jelas hambur-hambur uang dan yang lebih kasar adalah serakah jabatan. Maka haruslah kita merenungkan pantaskah kita dengan bangga dapat membelanjakan uang semau kita.

 

Mental adalah semacam bahan bakar agar kita dapat bangkit dalam keterpurukan ataupun kegagalan yang berulang kali menimpa kita. Kita mengenal dalam Islam bahwa tak pantas kita seorang muslim menyerah dalam kegagalan, yang efeknya pastilah dapat kita lihat mulai dari dengki, iri dan lain hal. kita pantas tengok Sejarah yang menuliskan bahwa tokoh-tokoh dunia yang sangat berpengaruh dalam berbagai hal dimulai dari kegagalan terlebih dahulu seperti Einstein yang tak lulus ujian sekolah dalam mata pelajaran bahasa dan budaya ternyata dalam kedepannya menjadi ilmuwan dunia. Thomas Alva edison seorang dengan hak paten yang mengagumkan telah gagal dalam 10083 kali sebelum berhasil apakah peran Mental tak ada dalam hal tersebut? dan hal simple lain yang sering saya dan kawan pecinta alam adalah mendaki gunung. Tentunya bukan fisik dan ilmu yang mumpuni tetapi niat dan kemauan yang baja adalah MENTAL ksatria yang saat ini sungguh kita butuhkan untuk Indonesia kini. Seperti Soekarno “Jatuh bangkit lagi, jatuh bangkit lagi” adalah semboyan yang perlu kita miliki.

Setelah dalam hal lain kita terus berusaha wajiblah kita instropeksi diri akan sebab musabab. Banyak contoh dalam kehidupan yang tentunya patut kita cermati akan potensi diri yang sering kita abaikan karena sibuk dalan suatu pengejaran yang tak kunjung usai. Logika sederhana mengatakan ” Anak macan biarlah menjadi macan dan pasti besar menjadi macan bukan sepeti macan bersayap atau bertanduk”. Tak berdosa bila kita sedikit mengakui dan berani merubah cita-cita bila dirasa memang tak sesuai dengan hati dan pikiran.

 

Tentu berangkat dari semua itu haruslah kita kita dasari semua itu pada tujuan yang baik dan mulya. Karena kita percaya hidup ini konon hanya sekali dan tak taulah apa yang akan terjadi kemudian. Maka secara nilai ketimuran kita haruslah berbuat manfaat bagi sesama hidup, hablum minannas yang secara mendasar menyuruh kita berbuat kebajikan agar seimbang lahir batin. Bolehlah kita dan cita-cita kita mengejar materi setinggi langit dan kenikmatan tak terbatas, janganlah lupa berbuat agar materi dan kenikmatan kita dapat kita pergunakan dan tularkan pada orang lain yang lebih membutuhkan agar secara manusiawi kita berbuat bernilai untuk hidup, tak melulu rakus dan ingin nikmat dan enak sendiri kala orang lain menderita. Etika kita sebagai manusia yang mengaku beragama tentulah mengajarkan kasih sayang dan cinta universal bukan golongan partai, warna kulit dan yang lebih parah bagi yang seiman saja.

 

Untuk kita renungkan dalam proses hidup dalam mengejar cita-cita apakah hanya untuk kita saja nikmat hidup itu, keberhasilan yang kita banggakan, kepintaran dan kesempatan kita sebagai kaum akademis yang beruntung. Kawan  paham kita dan cita-cita haruslah menancap dan mulai kita mantabkan agar menjadi Insan Kamil yang sempurna Bermanfaat. Indonesia butuh kita segera !

%d bloggers like this: