Skip to content

Alfiananda's Blog

Just another WordPress.com weblog

Kita tahu di Dunia ini negara yang paling banyak kuantitas warga Islam adalah negara Indonesia yang mencapai lebih dari 196 juta penduduk. Namun mengapa sering kita jumpai dan tahu bahwa bencana di Indonesia tak kunjung mereda namun bahkan cenderung semakin bermunculan.Dalam benak kita mestilah tergelitik mengapa sampai terjadi.Artikel di bawah ini berasal dari majalah Cahaya Sufi edisi agustus 2006 semoga bermanfaat Amin

Pertanyaan anda barangkali juga menjadi kegalauan bagi ummat islam, dengan pertanyaan yang sama.Misteri apa dibalik semua ini?

1.      Allah menguji manusia dengan hal-hal yang buruk dan hal-hal yang baik.Untuk mengukur sejauh mana kesalehan tindakannya di dunia sebagai hamba.dan sekaligus apakah seorang hamba lulus menghadapi ujian-ujian itu. jika ia lulus ia naik derajat dan jika tidak, ia terdegradasi.

2.      Allah menyeleksi para hambaNya dari semua level dan kalangan.Mulai dari paling awam, peling elit ataupun dari kalangan biasa,pejabat, politisi,pengusaha, ustadz, kyai, ulama, dan tukang becak. Nilai derajat itu ditentukan, apakah sang hamba sabar dan ridlo atau tidak. Bukan dilihat dari apakah seorang itu semakin sukses dan bangkrut itu bukan ukurannnya.

3.      Allah ingin mepercantik alam ini dan tentu saja memasukkannya dalam salon ruhaniyah melalui bencana itu, agar semesta kelak lebih indah dan menyejukkan iman kita.

4.      Agar kita semua bosan dan jenuh dengan kepalsuan dunia, dan lebih memilih Allah dan RasulNya. Karena kecemburuan Allah pada kita, atas Cinta dan kasihNya yang Agung kita abaikan, dengan perselingkuhan kita pada mahluk, akhirnya Allah membentak kita dengan sesuatu yang keras, agar kita kembali ke pelukan RahmatNya. Bentakan Allah itu diturunkan semata karena saking cinta dan sayangNya kepada kita.

5.      Banyaknya gelombang yang melebihi Tsunami. Suatau badai kekeringan dan kegersangan spiritual, yang menumbuhkan kehausan dan kegersangan jiwa dari ummat islam itu sendiri. Begitu marak bendera-bendera Islam, slogan-slogan takbir, teriakan-teriakan demonstran membela Islam, tetapi hati dan ruh mereka seperti terpanggang di atas sahara kegersangannya. Lalu mereka kehilangan moral sejati akhlaq ruhani, kebeningan hati sebagai ummat, lebih senang bermain-main di kawasan limbah dan kulit kering belaka.

6.      Jika banyak orang miskin yang tak berdosa terkena bencana, sementara koruptor semakin berjaya, ketidakadilan semakin merajalela dan premanisme semakin bergaya, semata karena Allah menyayangi hamba-hambaNya yang miskin, agar tidak terkutuk bersama-sama para penjahat itu,para munafiqin yang mengaku sok Islam tetapi hatinya busuk.

7.      Derajat ummat ditentukan sejauhmana keikhlasanya dalam beribadah,kesabarannya dalam menghadpi cobaa, keridloanny dalam merespon ketentuan dari Allah Ta’ala.

8.      Allah tidak pernah menzalimi hambaNya tetapi hamban itu sendiri yang menzalimi diri sendiri. Allah tidak pernah marah kecuali karena didahului oleh rasa CintaNya yang Agung. Allah tidak pernah memanipulasi para hambaNya dan tidak peunya kepentingan dengan maksiat atau taatnya hamba.Tetapi, para hamba seringkal memanipulasi Nama-Nama besarNya demi hawa nafsunya, simbol-simbolNya demi kepentingan dan kekuasaan hamba, dan sesunguhnya para hambalah yang butuh Allah ta’ala

9.      Para hamba Allah dimuka bumi telah kehilangan rasa di khalayak, berapa persen  ummat Islam ini yang masih memegang teguh sifat kehambaannya; Rasa Fakir kepada Allah, Rasa hina didepan Allah, Rasa tak berdaya di hadapanNya, Rasa lemah di depannya? Bukankah mayoritas saat ini malah merasa cukup dan tidak butuh Allah, merasa mulia karena menganggap dirinya lebih islam dan lebih dekat Allah; merasa kuat dan berkuasa dan berkuasa di muka bumi?

10.  Dalam dunia sufi, menghadapi cobaan dengan kesabaran, diperuntukkan kalangan awam. Tetapi bersyukur atas bencana dan cobaan, adalah sikap bagi kalangan khusus. Bersyukur terhadap nikmat adalah sikap kalangan awam, bersabar menghadapi nikmat adalah sikap kalangan khusus.

11.  Jangan dikira, bahwa kejadian-kejadian alam yang hancur itu bukan karena ulah manusia. Akal dan pengetahuan manusia yang terbatas beralibi: Bagaimana bencana terjadi karena ulah manusia? Bukankah ini gejala alam murni?  Bukankah ini semua dapar diprediksi? Bukankah bencana ini karena faktor-faktor evolusi dan seterusnya? Mari kita belajar pada tragedy Nabi Nuh as, ketika putranya Kan’an mengandalkam ilmu pengetahuan dan rasionya, sampai ia tenggelam dalam kekufurannya. Belajar pula pada kaum Luth, ketika ulah mereka menimbulkan bencana bumi yang tragis. Ingatlah pula hadist Nabi saw, mereka tentang Qiyamat, “Bahwa kiamat tak akan terjadi sepanjang masih ada yang berzikir…..”

12.  Bila Cahaya menerangi seluruh dunia dan seluruh ummat manusia mengalami pencerahan semua tanpa sisa, dunia pun akan kiamat. Begitu juga sebaliknya, jika kegelapam memenuhi jiwa manusia seluruhnya secara total, dunia juga akan kiamat. Namun, Hadist Nabi memberikan indikasi bahwa fakta kiamat bagi dunia adalah ketika dunia dengan manusianya mencapai kegelapan secara total. Bukan Cahaya Total.

13.  Ibadah, kepatuhan, ketaqwaan, kesalehan, dan kemuhsinan ummat Islam, sangat mempengaruhi perjalanan kosmik semesta, karena manusia adalah sentral dari makhluk Allah, dan sentral manusia adalah qalbunya. Begitu juga sebaliknya, kejahatan, kebejatan, kesombongan dan kealpaan manusia mempengaruhi tatasurya dan jagad semesta. Dalam dunia sufi disebutkan, bahwa aspek lahiriyah fisika itu hanyalah akibat dari batin dan hakikat kita.

14.  Perhitungan metematika, logika dan fisika, hanyalah perhitungan gejala dan tanda. Ada yang lebih neukleus (inti) bahwa perhitungan ruhani menempati posisi sentral dalam gerak-gerik alam semesta ini.

15.  Bagaimana anda melihat bencana? Anda lihat dengan matahati anda sendiri-sendiri: jika anda sedang dalam gairah mencintai Allah dan RasulNya, mata hati akan memandang betapa agungnya Asma dan sifatNya. Jika anda sedang lalai, menuruti keinginan nafsu diri, itulah bentakan-bentakan Ilahi kepada anda. Jika anda dalam kondisi sangat miskin secara duniawi, padahal anda dekat denganNya, itulah cara Allah menyelamatkan diri anda. Jika anda sedang berkecukupan, tetapi harta anda menumpuk bagai sampah du peti kekayaan anda, itulah cara Allah mengingatkan agar anda mengeluarkan kotoran-kotoran harta anda. Jika anda sedang bercahaya bersamaNya; itulah cara Allah menampakkan  kemahasucianNya, dan caraNya memperdengarkan tasbihnya alam kepada anda.

16.  Lihatlah dengan matahati pula, dibalik yang tampak di semesta ini, maka disanalah matahati menyaksikan Allah, dibalik, dibawah, di atas, sebelum, sesudah alam semesta ini. Jika tak mampu demikian, sesungguhnya matahati anda sedang kabur dari Cahaya Allah,karena tertutupi oleh mendung-mendung duniawi dan nafsu anda, dari Cahaya ma’rifat kepadaNya.

 

Tags:

%d bloggers like this: